Tampilkan postingan dengan label hbdi2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hbdi2. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 20, 2009

Oleh-oleh dari Workshop IDI Kaltim

0 komentar

Seperti telah diberitakan sebelumnya, tanggal 13 Juni 2009 menjadi tanggal yang cukup bersejarah bagi Ikatan Dokter Indonesia wilayah Kalimantan Timur. IDI Kaltim bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur pada hari tersebut telah sukses menyelenggarakan sebuah Workshop yang berupa Diskusi Panel, membahas nasib dokter di Kalimantan Timur. Tiga aspek utama yang dibahas dalam Workshop tersebut adalah:
1. Pemberdayaan Tenaga Dokter (positioning)
2. Kebijakan Penempatan Dokter dan Regulasi Pelayanan Kedokteran di Kalimantan Timur
3. Imbal Jasa Dokter.

Tiga topik di atas dianggap cukup mewakili tema yang diusung workshop ini yaitu "Pengembangan Peran dan Fungsi Dokter dalam Pembangunan Kesehatan di Kalimantan Timur". Setelah dibuka oleh Bapak Wakil Gubernur Kaltim (Bapak Gubernur berhalangan hadir karena harus menghadiri acara di luar daerah), acara dilanjutkan dengan Plenary Lecture yang mengetengahkan 4 orang pembicara yang masing-masing ahli di bidangnya (Prof. Dr. dr. Farid Anfasa Moeloek, SpOG (K): "Kebijakan/Regulasi dan Penegakan Hukum"; Dr. dr. Fachmi Idris, M. Kes: "Perspektif IDI terhadap Profesi Dokter (di Indonesia) Saat Ini"; Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD: Imbal Jasa Dokter; dan Prof. H. Sarosa Hamongpranoto, SH, M. Hum: Penghargaan Masyarakat akan Kesehatan, Sekarang dan di Masa yang Akan Datang).

Setelah Plenary Lecture yang memakan waktu cukup lama karena diselingi beberapa sesi pertanyaan (?), acara dilanjutkan dengan makan siang, yang didahului dengan kuliah singkat dari Prof. Chen Yongchong dari China tentang "The Breakthrough Skin Regeneration and MEBT Concept on Wound Management". Setelah makan siang, peserta dibagi menjadi 3 Komisi, yaitu Komisi A (Moderator: Dr. Rahmat Bahtiar, MPPM-Ketua Panitia Workshop), B (Moderator: Dr. Agus Sukaca), dan C (moderator: Dr. Greggorius Tekwan, SpOT) sesuai 3 topik di atas.

Sidang komisi berlangsung kurang lebih 1 jam 30 menit, dan setelah break sebentar untuk menikmati snack sore, acara dilanjutkan dengan Sidang Pleno yang dipimpin oleh Dr. Arie Ibrahim, SpBS (Ketua IDI Wilayah Kalimantan Timur). Akhirnya acara ditutup sekitar 10 menit sebelum pukul 18:00 wita dengan kesimpulan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan sesudah workshop ini untuk mewujudkan ide dan gagasan yang termunculkan pada saat workshop menjadi sesuatu bentuk nyata yang bermanfaat bagi teman sejawat dokter khususnya di Kalimantan Timur.

Hal ini dimungkinkan dengan kepedulian yang tinggi dari pihak Pemerintah Propinsi yang kemudian memandang workshop ini sebagai titik tolak dari pembangunan yang lebih bernafaskan kesehatan di mana peran serta dokter secara optimal di dalamnya sangatlah dibutuhkan. Untuk itu IDI Wilayah Kalimantan Timur akan merumuskan suatu Pokok-Pokok Pikiran yang kemudian diharapkan menjadi cikal bakal atau bahan masukan bagi pengaturan 3 aspek peran dan fungsi dokter yang telah disebutkan di atas ke dalam bentuk perundang-undangan yang lebih nyata seperti Peraturan Daerah.

Sehubungan dengan hal itu, dalam waktu singkat Tim Perumus akan dibentuk dan mulai bekerja, namun demikian, IDI Kaltim tetap menerima saran dan kritik yang berguna sejalan dengan perumusan aspek-aspek peran dan fungsi dokter tersebut dari TS anggota IDI di seluruh Wilayah Kalimantan Timur. Saran dan Kritik tersebut dapat dikirimkan melalui blog ini, email idi wilayah Kaltim (idikaltim@yahoo.co.id) atau melalui lisan atau tertulis di alamat sekertariat IDI Wilayah Kaltim. (CD makalah plenary lecture workshop ini juga dapat diperoleh di sekertariat IDI Wilayah Kaltim). rs

Minggu, Mei 31, 2009

The Breakthrought Skin Regeneration and MEBT Concept on Wound Management

0 komentar

TS Yth...
Ditengah-tengah acara workshop IDI Wilayah Kaltim "Pengembangan Peran dan Fungsi Dokter dalam Pembangunan Kesehatan di Kalimantan Timur" di R. Serbaguna Kantor Gubernur Kalimantan Timur, tanggal 13 Juni 2009 nanti, juga akan diselenggarakan simposium "The Breakthrough Skin Regeneration and MEBT (Moist Exposed Burn Therapy) Concept on Wound Management" yang mengetengahkan pembicara dari negeri China, Profesor Chen Yongchong.
Seperti dilihat dari judulnya, simposium ini membahas tentang metode baru regenerasi kulit dan konsep MEBT dalam Wound Management. Simposium singkat yang diadakan bersamaan dengan makan siang ini (Lunch Symposium) cukup menarik dan sebagai bagian dari workshop IDI Wilayah, peserta tidak perlu membayar biaya registrasi tambahan ("gratis bagi peserta workshop").
Bagi anggota IDI yang berminat untuk mengikuti simposium ini dipersilahkan mendaftarkan diri mengikuti workshop IDI Kaltim dan membayar registrasi workshop sebesar Rp. 100.000,-. Akreditasi IDI termasuk dalam akreditasi untuk workshop yaitu 8 SKP. rs

Senin, Mei 25, 2009

Workshop IDI Wilayah Kaltim

0 komentar



IDI Wilayah Kaltim dan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur mengundang Teman Sejawat anggota IDI di Kalimantan Timur untuk ikut berpartisipasi dalam Workshop (Diskusi Panel) "Pengembangan Peran dan Fungsi Dokter dalam Pembangunan Kesehatan di Kalimantan Timur." Mari,... tentukan nasib dokter khususnya di Kalimantan Timur dengan ikut berpartisipasi aktif dalam workshop ini.
Workshop yang akan dilaksanakan di Ruang Serbaguna Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jl. Gajahmada Samarinda ini, akan berlangsung sehari penuh (08:00 s/d 18:00) dan akan membahas 3 topik utama, yaitu:

1. Pemberdayaan tenaga dokter
2. Kebijakan Penempatan Tenaga Dokter dan Regulasi Pelayanan Kedokteran 
       di Kalimantan Timur
3. Imbal jasa dokter

Diharapkan workshop ini akan merumuskan hasil yang kemudian menjadi cikal bakal atau pedoman dari penentuan kebijakan dalam bidang kesehatan khususnya di Kalimantan Timur.

Bagi yang berminat, silahkan mendaftar di alamat sekertariat IDI WIlayah yang tertera di blog ini. Tiap peserta akan memperoleh akreditasi IDI 8 SKP. Biaya pendaftaran Rp. 100.000,- per orang bagi anggota IDI dan Rp. 150.000,- bagi non anggota. Segera mendaftar, tempat terbatas.... rs.

Jumat, Mei 22, 2009

Pers Release HBDI IDI II, 20 Mei 2009

0 komentar

Dokter adalah figur yang mengabdikan profesinya, tanpa terpengaruh pertimbangan-pertimbangan agama, kedudukan sosial, jenis kelamin, suku dan politik kepartaian. Artinya, dalam pekerjaan keprofesiannya dokter sarat dengan nilai kesetaraan. Sebuah nilai yang dapat menumbuhkan rasa ketertindasan yang sama akibat proses penjajahan, yang akhirnya menimbulkan rasa nasionalisme.

Tanggal 20 Mei telah ditetapkan sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) dalam acara di Istana Negara di hadapan Presiden RI pada tanggal 28 Mei 2008. Penetapan ini untuk menghargai para founding father dokter Indonesia yang telah memberi andil besar dalam kebangkitan nasional dan untuk mengingatkan dokter Indonesia agar selalu menjalankan trias peran dokter. HBDI pada hakekatnya merupakan gerakan solidaritas moral insan-insan profesi dokter dalam mewujudkan kepedulian profesi dokter. Pada peringatan HBDI setiap tahunnya para dokter di seluruh Indonesia akan melakukan kegiatan yang sangat spesifik, yaitu membebaskan jasa medik atau menyumbangkan jasa medik.

Dalam memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia tahun ini, Ikatan Dokter Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan antara lain:

1.      Pembebasan Jasa Medis atau Menyumbangkan Jasa Medik pada tanggal 20 Mei 2009

Pada peringatan HBDI, secara serentak di seluruh tanah air pada hari yang sama, seluruh anggota IDI membebaskan jasa medik atau menyumbangkan jasa mediknya melalui IDI untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan.

2.     Indomedica Expo 2009

 Indonesian Medical Expo 2009 ini telah dilaksanakan tanggal 7-10 Mei 2009 di Jakarta Convention Centre Hall B Senayan Jakarta.

Dengan  Acara:

a.      Pameran

b.      Area Tematik (rekam jejak gerakan dokter untuk bangsa)

c.       Seminar (Pendidikan Berkelanjutan)

d.      Seminar dan Urun Rembug Nasional Membangun Komitmen ‘Sejahtera Untuk Semua’ di era “Berobat Gratis” pelayanan kesehatan.

Tema: Spirit to Protect Everyone (untuk stake holder pelayanan kesehatan)

e.      Talk Show tentang 4 topik kesehatan popular

 

3.     Program Dokter Kecil Award

Program dokter kecil dalam usaha kesehatan sekolah dapat dijadikan pintu masuk untuk membudayakan perilaku hidup sehat sejak usia dini.

Program ini akan menyeleksi 10 dokter kecil terbaik di tingkat wilayah, lalu memilih seorang yang terbaik untuk menjadi utusan wilayah dan akan mengikuti karantina dan final pemilihan dokter kecil di Jakarta bersama seorang guru pendamping. Pelaksanaan program dokter kecil ini dimulai dari Maret 2009 dan Final akan dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 7 Mei 2009 (sebagai salah satu acara puncak Indomedica Expo).

4.     Safari Bakti IDI

Dalam memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia tahun 2009 IDI merencanakan Safari Bakti yaitu serangkaian kegiatan bakti sosial di beberapa wilayah Indonesia yang dimotori oleh beberapa Perhimpunan Dokter Spesialis. Dalam bakti sosial ini akan dilakukan tindakan/penanganan masal pada beberapa penyakit terpilih yang menjadi masalah kesehatan maupun sosial seperti penyakit kanker leher rahim dan katarak.

Pokok Kegiatan akan ditentukan kemudian setelah bentuk bakti sosial ditetapkan. (di Kabupaten Berau sudah dilaksanakan pada tanggal 8-9 Mei 2009)

 

5.   Diskusi Panel IDI Kaltim

Menyikapi hal-hal di atas, Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Kalimantan Timur merasakan perlu menyelenggarakan suatu diskusi ilmiah yang dilaksanakan dalam bentuk workshop, sebagai wadah untuk membahas tentang pelayanan kesehatan dilihat dari berbagi segi, terutama dari kacamata profesi dokter, sehingga Pelayanan Kesehatan dapat memberikan kontribusi optimal bagi kesejahteran masyarakat, termasuk para dokter. Dengan Tujuan :

1.       Menemukan dan mensosialisasikan sistem pembangunan kesehatan yang baik dan aplikabel termasuk sistem pembiayaannya

2.      Menghargai profesionalisme dokter dalam peranannya dalam pembangunan kesehatan

Hasil yang diharapkan:

1.    Sistem pembangunan kesehatan yang real dan aplikabel

2.   Komitmen dengan penjabaran dan penjelasan yang nyata akan penghargaan profesionalisme dokter

3.   Usulan Profesi untuk pembentukan peraturan-peraturan daerah tentang kesehatan.

 

Untuk pelaksanaan diskusi ilmiah ini memerlukan sejumlah anggaran biaya yang cukup besar yang diharapkan mendapat sumbangan pihak-pihak partisipan dan bantuan pemerintah daerah propinsi maupun kota/kabupaten.

 

Revitalisasi dokter Indonesia melalui kegiatan-kegiatan sebagai pengejewantahan Gerakan Dokter untuk Bangsa ini perlu dilaksanakan agar para dokter Indonesia dapat kembali berperan seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulunya lebih dari seabad yang lalu. Dokter Indonesia di era saat ini, diharapkan dapat terus memelihara semangat Kebangkitan Nasional dengan cara berjuang terus menerus untuk mencapai Indonesia sehat yang sempurna (”fisik-mental-sosial”) sebagai modal dasar menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang terhormat.         

Sekian dan Terima kasih.!

 

Samarinda, Tgl. 18 Mei 2009

Ketua IDI Wilayah Kalimantan Timur.

 

 

      Dr.Arie Ibrahim, SpBS

Jumat, Mei 15, 2009

URUN REMBUG NASIONAL IDI

0 komentar

Pada tanggal 7-9 Mei 2009 telah dilaksanakan Urun Rembug Nasional IDI di Jakarta Convention Center Senayan Jakarta. Rombongan IDI Wilayah Kaltim yg tdd 16 orang (5 orang pengurus IDI Wilayah dan 9 orang perwakilan cabang) berangkat ke Jakarta berpartisipasi dalam acara ini. 
Acara yg berlangsung bersamaan dengan Indomedica Expo (pameran industri farmasi dan alat2 kesehatan) dibuka oleh Menko Kesra Abu Rizal Bakrie mewakili Presiden RI yg berhalangan hadir, dihadiri oleh sekitar 200 hadirin dari berbagai wilayah di Indonesia. Walaupun dimulai agak terlambat, acara tetap berjalan dengan hikmat.
Setelah pembukaan oleh Menko Kesra acara dilanjutkan dengan paparan atau testimonial dari berbagai pihak yg terkait, sesuai tema Urun Rembug Nasional ini yaitu "Sejahtera untuk Semua di Era Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis-sebuah Komitmen yang harus dibangun". Hari pertama ditutup dengan Scientific symposium oleh sponsor dan konklusi hari pertama oleh Panitia Urun Rembug.
Hari kedua dimulai dengan pembahasan materi oleh Prof. Farid Anfasa Moeloek dan beberapa pakar pembiayaan kesehatan lainnya. Semua pembicara ini membahas masalah pelayanan gratis, kekurangan dan kelebihannya, memaparkan sistem pelayanan kesehatan dan issue penggratisan retribusi yg sedang marak saat ini. Hampir semuanya berpendapat bahwa untuk mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang mutakhir dan profesional, perlu juga diperhatikan komponen penyedia jasanya, salah satunya dokter sebagai tulang punggung pelayanan kesehatan. Mensejahterakan masyarakat dengan pelayanan gratis bukan berarti menomor duakan kesejahteraan para dokter yang semakin hari juga semakin dituntut keprofesionalan dan kemutakhirannya dalam menyediakan pelayanan kesehatan.
Hari ketiga atau hari terakhir dibuka dengan paparan luar biasa dari Ibu Menteri Keuangan. Berbicara mengenai krisis global dan pengaruhnya pada perekonomian Indonesia, Ibu DR Sri Mulyani juga menjelaskan tentang anggaran negara dan porsi anggaran untuk bidang kesehatan. Ucapan beliau yg sangat berkesan bagi penulis adalah: because we love this country so much, kita harus bisa melakukan apa yg harus dilakukan walaupun sulit dan sistem bergerak ke arah lain (...)
Berikutnya adalah giliran Bapak Sekjen Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara yg memaparkan tentang posisi dokter dan pemberdayaannya dalam kerangka Pembangunan Kesehatan di Indonesia, sebelum akhirnya urun rembug ini ditutup pada sekitar pukul 13:00 wib (untuk kemudian dilanjutkan dengan rapat pleno diperluas untuk PB IDI dan Ketua IDI Wilayah se-Indonesia membahas persiapan muktamar IDI di Palembang November mendatang).
Acara Seminar Urun Rembug Nasional ini sudah menghabiskan waktu dan biaya yg cukup besar, namun semua wacana yg dibicarakan di dalamnya masih perlu dijewantahkan ke dalam diskusi yang lebih spesifik untuk dapat diambil tindakan nyata untuk mewujudkan sejahtera untuk semua yang menjadi tema urun rembug ini. Salah satu bentuk diskusi seperti telah disebutkan di atas adalah acara Workshop/Diskusi Panel IDI Wilayah Kaltim yang akan diadakan pada bulan Juni yang akan datang, yg mengangkat tema "Pengembangan Peran dan Fungsi Dokter dalam pembangunan Kesehatan di Kalimantan Timur".
Bersamaan dengan pelaksanaan Seminar Urun Rembug Nasional ini, digelar Grand Final Dokter Kecil Award di tempat yang sama, yang dihadiri oleh Ibu Negara Ibu Ani Yudoyono. Sayang sekali wakil Kaltim tidak dapat berjaya dalam pemilihan ini, bahkan tidak masuk dalam 10 besar yang merupakan seleksi pertama dari 33 propinsi. Keluar sebagai pemenang Dokcil dari Wilayah Jawa Timur (juara I), Jakarta (juara II), Riau (juara III).rs

Minggu, April 12, 2009

Seleksi "Dokcil Award IDI 2009" wilayah Kaltim

0 komentar

Sebagai salah satu program dalam peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) II tahun 2009, IDI menyelenggarakan lomba dokter kecil yang dikenal juga dengan "Dokcil Award" yang dilaksanakan pertama kalinya pada tahun ini. Program yang bertemakan "Sehat dimulai dari Saya" ini dimulai di tingkat wilayah, mengikut-sertakan 10 peserta dari 10 sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Dasar Propinsi (Disdiknasprop) sesuai Juklak Dokcil Award yang ditetapkan oleh PB IDI.

Disdiknas Propinsi Kaltim, menanggapi permintaan dari IDI Wilayah Kaltim, tahun ini menunjuk 10 sekolah dari 3 kota di wilayah Kalimantan Timur; 5 sekolah dari kota Samarinda, 3 sekolah dari kota Balikpapan dan 2 sekolah dari kota Bontang. Sekolah-sekolah tersebut pun mengirimkan masing-masing 1 (satu) orang siswa dan 1 (satu) orang guru pendamping untuk seleksi tingkat wilayah yang diadakan tanggal 11 April 2009 kemarin.

Adapun nama-nama siswa peserta 'Seleksi Dokcil Award IDI 2009 tk Wilayah Kaltim' kali ini adalah:
  1. Luthfi Lu'ay JS, dari SDN 005 Awang Long, Samarinda
  2. Riya Oktavianti, dari SDN 001 Sei Kunjang, Samarinda
  3. Rani Praningtyas, dari SDN 023 Meranti, Samarinda
  4. Afnan Khairunisa Bahrah, dari SDN 002, Samarinda
  5. Safira Islamina, dari SDN 010, Samarinda
  6. Adinda Gita Mirandha, dari SDN 003, Balikpapan
  7. Alya Dheanisa Hardanti, dari SDN 029, Balikpapan
  8. Erista Rebeca, dari SD Kemala Bhayangkari, Balikpapan
  9. Irene R. B. Munte, dari SD YPVDP PT Badak, Bontang.
  10. Humaira Rofidah Zahra, dari SD-2 Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang.
Untuk seleksi kali ini, panitia dibantu oleh 4 orang juri yang bertugas menilai para peserta sehingga dapat ditentukan siswa yang terbaik dan terpantas mewakili Kalimantan Timur ke ajang "Dokcil Award 2009" tingkat nasional, yaitu:
  1. Dr. Arie Ibrahim, SpBS (ketua IDI Wilayah Kaltim)
  2. Dr. Nanan Surya Perdana, SpA (dokter anak)
  3. Dra. Inneke Trihendro (psikolog)
  4. Rusmah, S. Pd (pendidik)
Acara yang diadakan hari Sabtu, 11 April 2009 di R. Kuliah Faal Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, dimulai pukul 08:30 dan selesai pada pukul 12:30 wita. Diikuti oleh kesepuluh peserta, acara dimulai dengan pengarahan oleh panitia tentang penyelenggaraan tahap-tahap penjurian, dilanjutkan dengan ujian tulis (60 menit menjawab 50 soal multipel choice, dan 25 menit mengarang bebas dengan tema "sehat dimulai dari saya"). Setelah ujian tulis makan ditentukan 3 orang finalis yang kemudian mengikuti tes psikologis yang akhirnya memunculkan urutan para pemenang sebagai berikut:
  1. Juara I Adinda Gita Mirandha dari SDN 003 Balikpapan
  2. Juara II : Irene R. B. Munthe dari YPVDP PT Badak Bontang
  3. Juara III : Humaira Rofidah Zahra dari SD-2 Yayasan Pupuk Kaltim Bontang
Segenap panitia dan pengurus IDI Wilayah Kaltim mengucapkan selamat kepada para pemenang, dan kepada An. Adinda Gita Mirandha dari SDN 003 Balikpapan, semoga dapat mengharumkan nama Kalimantan Timur di ajang Dokcil Award Nasional di Jakarta tanggal 3-7 Mei 2009 mendatang.

Sistem seleksi dan penilaian Dokter Kecil Award ini masih banyak ketidak sempurnaan. Hal ini dapat dimaklumi karena perhelatan ini adalah yang pertama kalinya diadakan. Kritik dan saran sangat diharapkan dari seluruh anggota IDI dari cabang-cabang di wilayah Kalimantan Timur. Semoga di kemudian hari, program ini dapat berjalan dengan lebih baik, melibatkan seluruh sekolah dan IDI2 Cabang di Wilayah Kalimantan Timur, sehingga dampaknya akan lebih terasa di lingkup masyarakat yang lebih luas. 



Selasa, Maret 10, 2009

Hari Bakti Dokter Indonesia 2009

0 komentar

Dokter adalah figur yang mengabdikan profesinya, tanpa terpengaruh pertimbangan-pertimbangan agama, kedudukan sosial, jenis kelamin, suku dan politik kepartaian. Artinya, dalam pekerjaan keprofesiannya dokter sarat dengan nilai kesetaraan. Sebuah nilai yang dapat menumbuhkan rasa ketertindasan yang sama akibat proses penjajahan, yang akhirnya menimbulkan rasa nasionalisme.

Tidak mengherankan jika kelompok pertama yang menginisiasi semangat nasionalisme adalah dokter. Sebuah semangat, yang kemudian menjadi embrio kesadaran berbangsa dan pada gilirannya melahirkan semangat kebangkitan nasional 20 Mei 1908. Sebuah momentum yang akhirnya mendorong proses menuju kemerdekaan bangsa. Dan, hasil dari proses tersebut membuktikan bahwa untuk merdeka dan menjadi bangsa yang terhormat harus dilandasi dengan kesadaran berbangsa serta rasa nasionalisme yang tinggi.

Tanggal 20 Mei telah ditetapkan sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) dalam acara di Istana Negara di hadapan Presiden RI pada tanggal 28 Mei 2008. Penetapan ini untuk menghargai para founding father dokter Indonesia yang telah memberi andil besar dalam kebangkitan nasional dan untuk mengingatkan dokter Indonesia agar selalu menjalankan trias peran dokter. HBDI pada hakekatnya merupakan gerakan solidaritas moral insan-insan profesi dokter dalam mewujudkan kepedulian profesi dokter. Pada peringatan HBDI setiap tahunnya para dokter di seluruh Indonesia akan melakukan kegiatan yang sangat spesifik, yaitu membebaskan jasa medik atau menyumbangkan jasa medik.

Dalam memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia tahun ini, Ikatan Dokter Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan antara lain:

 

1.      Pembebasan Jasa Medis atau Menyumbangkan Jasa Medik pada tanggal 20 Mei 2009

Pada peringatan HBDI secara serentak di seluruh tanah air pada hari yang sama seluruh anggota IDI diharapkan membebaskan jasa medik atau menyumbangkan jasa mediknya.

 

2.     Indomedica Expo 2009

Untuk mencapai salah satu semangat trias peran dokter yaitu sebagai agent of treatment, pada momentum peringatan 20 Mei 2009, Ikatan Dokter Indonesia kembali lagi menghadirkan suatu kegiatan yang mengekspos pencapaian dunia kedokteran Indonesia yang meliputi Pendidikan Kedokteran, Rumah Sakit berikut sarana penunjangnya seperti alat kesehatan, laboratorium dan juga Industri farmasi dalam sebuah kegiatan bernama “Indonesia Medical Expo 2009” INDO MEDICA EXPO 2 sebagai salah satu rangkaian kegiatan peringatan kebangkitan Nasional dan diharapkan menjadi semangat baru dokter Indonesia dan seluruh komponen masyarakat untuk semakin mensejahterakan bangsanya. Untuk itu, Indomedica Expo 2 merupakan kesempatan dan peluang yang baik bagi komponen-komponen masyarakat khususnya lembaga-lembaga terkait dengan pencapaian dunia kedokteran Indonesia untuk menginformasikan dan mempromosikan dirinya dengan kerjasama yang saling menguntungkan dalam kegiatan ini.

      Indonesian Medical Expo 2009 ini akan dilaksanakan tanggal 7-10 Mei 2009 di Jakarta Convention Centre Hall B Senayan Jakarta.

Program Acara:

a.      Pameran

b.      Area Tematik (rekam jejak gerakan dokter untuk bangsa)

c.       Seminar (Pendidikan Berkelanjutan)

d.      Seminar dan Urun Rembug Nasional Membangun Komitmen ‘Sejahtera Untuk Semua’ di 

      era “Berobat Gratis” pelayanan kesehatan.

     Tema: Spirit to Protect Everyone (untuk stake holder pelayanan kesehatan)

e.      Talk Show tentang 4 topik kesehatan populer

 

3.     Program Dokter Kecil Award

Gerakan Dokter untuk Bangsa adalah gerakan yang menghimpun dan mengerahkan segenap potensi dokter dan potensi masyarakat untuk menyehatkan bangsa. Salah satu potensi masyarakat yang patut dikembangkan adalah keberadaan dokter kecil.Program dokter kecil dalam usaha kesehatan sekolah dapat dijadikan pintu masuk untuk membudayakan perilaku hidup sehat sejak usia dini.

Program ini akan menyeleksi 10 dokter kecil terbaik di tingkat wilayah, lalu memilih seorang yang terbaik untuk menjadi utusan wilayah dan akan mengikuti karantina dan final pemilihan dokter kecil di Jakarta bersama seorang guru pendamping.

Pelaksanaan program dokter kecil ini dimulai dari Maret 2009 dan Final akan dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 7 Mei 2009 (sebagai salah satu acara puncak Indomedica Expo).

 

4.     Safari Bakti IDI

Hari Bakti Dokter Indonesia pada hakekatnya merupakan sebuah  gerakan solidaritas moral bagi insan - insan profesi dokter dalam rangka memperkuat citra profesi kedokteran dan kepeduliannya pada masalah kesehatan di masyarakat. Dalam memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia tahun 2009 IDI merencanakan Safari Bakti yaitu serangkaian kegiatan bakti sosial di beberapa wilayah Indonesia yang dimotori oleh beberapa Perhimpunan Dokter Spesialis. Dalam bakti sosial ini akan dilakukan tindakan/penanganan masal pada beberapa penyakit terpilih yang menjadi masalah kesehatan maupun sosial seperti penyakit kanker leher rahim dan katarak.

Pokok Kegiatan adalah menyelenggarakan bakti sosial dalam bentuk upaya pencegahan dan upaya rehabilitasi terhadap penyakit yang menjadi masalah kesehatandan social dan Tatacara Pelaksanaan Pokok Kegiatan akan ditentukan kemudian setelah bentuk bakti sosial ditetapkan.

 

Revitalisasi dokter Indonesia melaui kegiatan-kegiatan sebagai pengejewantahan Gerakan Dokter untuk Bangsa ini perlu dilaksanakan agar para dokter Indonesia dapat kembali berperan seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulunya lebih dari seabad yang lalu. Dokter Indonesia di era saat ini, diharapkan dapat terus memelihara semangat Kebangkitan Nasional dengan cara berjuang teris menerus untuk mencapai Indonesia sehat yang sempurna (”fisik-mental-sosial”) sebagai modal dasar menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang terhormat.

(rs, sumber: panduan hbdi2)

Dokcil Award

0 komentar

Dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, upaya-upaya kesehatan secara komprehensif harus terus digalakkan. Bukan hanya upaya kuratif dan rehabilitatif, upaya preventif dan promotif memberikan andil yang besar dalam pencapaian derajat kesehatan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah upaya kesehatan promotif. Upaya kesehatan ini menekankan pada pembelajaran kesehatan kepada masyarakat sebagai subjek sekaligus objek dalam menjaga dan memelihara kesehatannya. Lebih spesifik lagi, memberikan pembelajaran kesehatan sejak usia dini seperti pembelajaran bagi anak-anak usia sekolah tentang arti penting kesehatan melalui program dokter kecil yang telah digalakkan oleh pemerintah. 

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) sebagai organisasi profesi memandang perlu adanya upaya-upaya kesehatan promotif dalam hal pembinaan bagi anak usia sekolah mengenai kesadaran akan kesehatan yang nantinya diharapkan mampu menghasilkan kader-kader kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan.

  Oleh karena itu, dalam rangka menyambut “Hari Bakti Dokter yang II,  Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyelenggarakan kegiatan “Dokter Kecil Award “ 2009. Program ini akan memilih Dokter kecil Terbaik  yang dapat menjadi contoh atau teladan bagi teman sebayanya  dimana Kriteria dan Seleksinya berdasarkan Pengembangkan Modul Pelatihan  dan Kurikulum Dokter Kecil yang telah dilakukan oleh PB IDI sebelumnya.

  Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang diselenggarakan  di Provinsi DKI Jakarta sebagai pilot project yang kemudian dikembangkan ke tingkat yang lebih besar/nasional pada tahun ini dan diharapkan akan terus berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang.

  Dengan adanya masukan bagi IDI dalam pengembangan modul pelatihan dan Kurikulum Program Dokter Kecil Sekolah,  maka diharapkan manfaat dari program ini dapat terlihat secara lebih nyata, baik di lingkungan sekolah maupun di keluarga/komunitasnya. 

Program Dokcil yang tahun ini bertemakan "SEHAT DIMULAI DARI SAYA" ini, dimulai dengan seleksi di tingkat IDI Wilayah, mengikutsertakan 10 peserta dari 10 sekolah yang direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan Propinsi. Dari 10 peserta itu akan dikirim 1 orang peserta ke Jakarta untuk mengikuti karantina tanggal 3 - 6 Mei 2009 seleksi tingkat nasional tanggal 7 Mei 2009. rs sumber: Juklak Dokcil 2009.